Kopi untuk Konservasi: Para Petani Menanam Harapan di Aceh

Selasa, 6 November, 2018
Yusdi Abadi dengan bangga memamerkan biji kopi yang siap dipanen di Aceh.
Samantha Martin/USAID

Sang guru yang juga petani dan seorang ayah, Yusdi Abadi memahami bahwa hutan di Indonesia penting sebagai tempat yang menyediakan mata pencaharian sehingga perlu dilindungi. “Melestarikan lingkungan adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik untuk kami dan generasi masa depan,” ucapnya. Meskipun demikian, Yusdi belum mengetahui bagaimana mewujudkan masa depan—dan tidak bisa membayangkan bahwa kopi akan jadi jawabannya.

Beberapa tahun lalu, Yusdi mulai mencari penghasilan tambahan sebagai guru dengan menanam serai wangi, tanaman yang menghasilkan minyak esensial untuk berbagai produk seperti penolak serangga. Kabupaten Gayo Lues, tempat Yusdi tinggal, memiliki angka kemiskinan dua kali lipat dibanding angka rata-rata nasional. Banyak keluarga mengandalkan tanaman serai wangi sebagai mata pencahariannya. Tapi, pohon-pohonharus ditebang supaya pohon bisa tumbuh, dan proses penyulingan tanaman untuk mendapatkan minyak esensialnya memerlukan kayu dalam jumlah banyak.

Tekanan karena penanaman serai wangi—satu-satunya tempat di dunia dimana orangutan, badak, harimau dan gajah masih tinggal bersama di dalam satu ekosistem—bukan merupakan praktik pertanian berkelanjutan. Hanya masalah waktu sebelum penduduk Gayo Lues menyadari bahwa praktik pertanian yang berbeda perlu dilakukan. Kini para petani, masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Gayo Lues mulai bekerjasama untuk membuat perubahan.

Dengan bantuan USAID melalui program LESTARI— yang memberikan dukungan kepada Indonesia untuk meningkatkan pemanfaatan lahan berkelanjutan dan melestarikan keanekaragaman hayati—para petani di Gayo Lues mulai berpaling dari serai wangi (Bahasa Inggris: citronella) ke tanaman kopi, tanaman ramah hutan yang tidak mengandalkan pembukaan lahan untuk penanaman atau pembakaran hutan untuk pengolahannya. Program USAID Lestari juga membantu para petani mengembangkan pembibitan kopi, berbagi pengetahuan tentang cara-cara pertanian ramah lingkungan dan memastikan akses legal ke pemanfaatan lahan. Lebih dari 650 petani, termasuk Yusdi, saat ini memiliki kehidupan yang lebih baik dengan menanam kopi, bukan serai wangi.

Semua upaya mereka telah melindungi hutan Aceh dan mendukung perekonomian setempat.

"Bantuan yang diberikan oleh Pemerintah AS melalui USAID adalah gambaran yang sangat baik bagaimana pelestarian hutan dan peningkatan ekonomi bisa berjalan berdampingan. Kami bangga membantu para mitra kami dan masyarakat setempat untuk memastikan bahwa sumber daya alam Aceh yang luar biasa bisa bermanfaat bagi generasi-generasi sekarang maupun yang akan datangn," demikian kata Wakil Direktur USAID Ryan Washburn saat kunjungannya baru-baru ini ke Gayo Lues.

Untuk mendukung upaya parapetani lokal, USAID telah mendistribusikan lebih dari 50.000 bibit kopi. Dengan mengalihkan produksi pertanian ke tanaman-tanaman yang bernilai tinggi dan berkelanjutan, masyarakat setempat membantu hutan tetap terjaga. Kopi di kawasan ini bahkan mulai mendapatkan perhatian dunia; kopi dari Gayo Lues ditampilkan di pameran kopi berkualitas tinggi di Seattle pada awal tahun 2018.

Dengan pengetahuan dan sumber daya yang baru, Yusdi sekarang lebih siap berperan untuk melindungi hutan-hutan Aceh. “[Beralih dari serai wangi ke kopi] meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan kami, dan yang paling penting, perubahan ini menolong kami melestarikan lingkungan. Kami ingin menjadi petani kopi yang sukses dan membantu hutan kami kembali hijau seperti sebelumnya." 

Simak lebih jauh https://www.lestari-indonesia.org/

Untuk informasi terkini lainnya, gabung dengan @USAIDIndonesia di Facebook(link is external)Exposure(link is external)Twitter(link is external) dan Flickr(link is external).

Cerita oleh Samantha Martin dengan kontribusi dari Savira Pramuditha. Terjemahan oleh Herlina dengan kontribusi dari Joshau Zabin. 

Last updated: May 31, 2019

Share This Page