Menyelamatkan Cadangan Ikan Indonesia

Kamis, 30 Mei, 2019
Snapper snapped! Seorang nelayan mengumpulkan data tangkapan ikan di Sulawesi Utara, Indonesia.
USAID SNAPPER

Di pasar makanan laut global yang bernilai 130 miliar dolar AS, ikan kakap dan kerapu sangat diminati, dan Indonesia merupakan produsen utama di dunia untuk kedua jenis ikan tersebut. Ikan-ikan yang lezat ini sangat nikmat bila digoreng tanpa tulang atau dijadikan isian sandwich. Tapi popularitasnya ternyata menurunkan cadangan ikan Indonesia.

Terus meningkatnya permintaan global terhadap ikan kakap dan kerapu membuat nelayan dan industri perikanan kesulitan untuk mengimbangi permintaan global yang meningkat pesat tanpa merusak laut. Kakap dan kerapu sering ditangkap sebelum dewasa, praktik ini membahayakan populasi ikan di habitatnya.

Selama dua dekade terakhir, industri perikanan global mulai bergeser ke arah pelaksanaan praktik-praktik yang lebih berkelanjutan. Hal ini sebagian disebabkan oleh kampanye yang dilakukan oleh organisasi lingkungan dan pakar industri yang peduli terhadap pasokan ikan.

Tetapi praktik penangkapan ikan berkelanjutan bisa mahal dan memberatkan nelayan. Perusahaan enggan untuk berinvestasi dalam praktik berkelanjutan jika menurunkan keuntungan yang didapatnya dan membuat mata pencaharian nelayan terancam.

Seperti yang diketahui oleh perusahaan makanan laut AS, Norpac Fisheries Export, jika cadangan ikan habis berarti tidak ada lagi keuntungan. “Ikan yang ditangkap sebelum memiliki kemampuan bertelur tidak bisa berkontribusi pada pertumbuhan populasinya di alam,” kata pendiri Norpac, Thomas Kraft. “[Tapi] sering kali, hanya nelayan yang diminta berkorban dengan mengadopsi praktik penangkapan ikan  berkelanjutan, yang meningkatkan beban kerja mereka dan berdampak negatif pada mata pencaharian. Penting bahwa industri perikanan secara keseluruhan berkomitmen untuk menangkap ikan dengan cara yang bertanggung jawab dan membantu mengurangi beban yang berada di pundak nelayan.”

Di bawah kemitraan antara USAID dan The Nature Conservancy (TNC), Norpac dan sembilan perusahaan lainnya sepakat untuk tidak membeli (atau menjual) ikan kakap dan kerapu yang masih muda dari Indonesia melalui program perbaikan perikanan (Fisheries Improvement Project). Sebagai bagian dari program ini, sepuluh perusahaan tersebut akan berbagi data perikanan mereka, seperti asal usul dan ukuran ikan yang ditangkap. Data tersebut akan dijadikan pedoman oleh Pemerintah Indonesia sehingga dapat membuat keputusan terbaik berdasarkan informasi yang akurat  untuk mengelola sumber daya ikan di Indonesia. Sepuluh perusahaan ini juga akan melembagakan praktik yang lebih berkelanjutan di bawah kerangka kerja program perbaikan perikanan TNC, salah satu program yang paling ketat pengawasannya - dan dengan demikian juga memiliki dampak paling besar - di dunia

Peter Mous, Direktur Perikanan TNC untuk Asia Pasifik, mengatakan: “Kami berharap untuk melibatkan lebih banyak perusahaan lain yang tertarik untuk berkomitmen terhadap keberlanjutan perikanan seperti yang dilakukan Norpac.”

“Tujuan kami adalah agar upaya ini menjadi contoh bagi program perikanan serupa di kawasan ini dan juga seluruh dunia,” tambah Kraft.

Seiring dengan stabilnya pasokan ikan di Indonesia, para nelayan akan menikmati pendapatan dan kesejahteraan yang lebih terjamin. Di sisi lain, seiring makin banyaknya kemitraan dengan perusahaan seperti Norpac yang ingin bekerja sama untuk kelestarian sumberdaya ikan, maka konsumen makanan laut di seluruh dunia akan dapat terus menikmati ikan kakap dan kerapu Indonesia.

Tentang Cerita Ini

USAID mendukung visi Indonesia menuju lautan yang produktif dan berkelanjutan. Bekerja sama dengan TNC, USAID memastikan komitmen dari sepuluh perusahaan berikut untuk program perbaikan perikanan: Norpac Fisheries Export; Anova Food, LLC; CV. Bali Sustainable Seafood; LP Foods PTE Ltd.; Netuno USA Inc.; PT. Bahari Biru Nusantara; PT. Graha Insan Sejahtera; PT. Kharisma Bintang Terang; PT. Solusi Laut Lestari; and PT. Sukses Hasil Alam Nusaindo (Shanindo).

Hingga saat ini, untuk mendukung Pemerintah Indonesia, USAID SNAPPER telah meningkatkan pengelolaan perikanan di 11,1 juta hektar kawasan perairan Indonesia yang sedikit lebih luas dari Provinsi Papua Barat dan meningkatkan kemandirian Indonesia dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan.

 

Untuk informasi terkini lainnya, gabung dengan @USAIDIndonesia di FacebookExposureTwitter dan Flickr.

Cerita oleh Samantha Martin dan Andrew Harmon (TNC). Terjemahan oleh Herlina. 

 

Last updated: May 31, 2019

Share This Page