Bermitra dengan Masyarakat untuk Pengendalian Tuberkulosis

Selasa, Mei 7, 2019
Ida Farida, kader petugas kesehatan masyarakat di Jakarta, Indonesia, membantu orang-orang di lingkungannya mengakses dan memanfaatkan perawatan kesehatan yang dibutuhkan.
USAID Global Health

“Masyarakat Indonesia masih memiliki banyak kesalahan persepsi tentang Tuberkulosis (TBC). Banyak orang berpikir penyakit itu turun temurun atau kekuatan gaib,” katakan Ida Farida, kader kesehatan masyarakat di daerah Tanah Tinggi di Jakarta, Indonesia -- negara yang menanggung beban TBC terbesar ketiga TB di dunia.

Pemerintah Indonesia berjuang untuk mewujudkan visinya yaitu Indonesia bebas TBC pada tahun 2030. Ditambah dengan kesulitan mengakses dan membayar pelayanan kesehatan, kurangnya pemahaman umum tentang TBC sehingga menghambat upaya masyarakat dalam mencegah dan mengendalikan penyakit, khususnya di tempat-tempat yang paling berisiko.

Dengan rencana ambisius untuk menyediakan cakupan kesehatan universal kepada semua warga negara, Pemerintah Indonesia bermitra dengan organisasi masyarakat sipil setempat (CSO) untuk memastikan bahwa masyarakat mendapatkan informasi kesehatan yang dibutuhkan. Kunci dari metode ini adalah mengaktifkan orang-orang dan berbagai organisasi yang terpercaya untuk menjembatani kesenjangan antara masyarakat dan pelayanan kesehatan.

Di Tanah Tinggi, Ida menjadi wujud keterhubungan utama antara orang-orang yang sakit dan perawatan yang sangat dibutuhkan. Melalui program sukarela USAID Community Empowerment Against Tuberculosis (CEPAT), Ida dan kader kesehatan masyarakat lain mendekati masyarakat setempat untuk memahami pengetahuan, salah persepsi dan kebutuhan mereka tentang kesehatan. Ida berbagi informasi dengan fasilitas kesehatan setempat, meningkatkan pemberian pelayanan dan mendorong lebih banyak anggota masyarakat untuk mencari pelayanan kesehatan.

Di tingkat lebih tinggi, USAID CEPAT juga bermitra dengan organisasi masyarakat. Selain melatih kader kesehatan masyarakat seperti Ida, USAID CEPAT bekerja sama dengan organisasi seperti Nahdlatul Ulama, organisasi sosial Muslim terbesar di dunia, untuk membantu fasilitas kesehatan umum setempat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan dan pengendalian penyakit. Hubungan terpercaya yang terbangun antara Nahdlatul Ulama dan organisasi masyarakat sipil (CSO) lain dengan masyarakat setempat membantu fasilitas kesehatan umum menjangkau masyarakat dan memberikan informasi serta pelayanan yang kritis melalui saluran terpercaya yang sudah ada.

Organisasi Indonesia lainnya seperti Jaringan Kesehatan/Kesejahteraan Masyarakat dan Keuskupan Katolik Roma juga membantu dalam upaya ini. Bersama berbagai organisasi masyarakat sipil lain yang lebih kecil; kedua organisasi tersebut berada di posisi yang baik untuk menyebarkan informasi kesehatan kepada jaringan anggotanya yang berjumlah jutaan orang di seluruh Indonesia.

Melalui kemitraan dengan CSO, USAID memajukan kemandirian Indonesia dengan melibatkan masyarakat setempat untuk berjuang melawan penyakit dengan membina hubungan yang lebih kuat antara masyarakat dan sistem kesehatan sehingga masyarakat semakin nyaman menggunakan fasilitas kesehatan setempat.

Saat kesehatan dan kesejahteraan mulai diperbincangkan di tingkat nasional, masyarakat dan para penyusun kebijakan kesehatan memperdalam kemitraan mereka dengan CSO untuk mendorong proses ini ke depan.

Relawan seperti Ida membantu pasien di daerah dan mereka yang diduga menderita TBC agar bisa mendapatkan tes kesehatan dan perawatan. Ketika jumlah diagnosis dan penerima perawatan meningkat, jumlah orang yang menderita TBC menurun.

Kemitraan ini memperlihatkan bahwa setiap jiwa sungguh-sungguh berarti dan kemitraan dengan masyarakat merupakan hal yang sangat penting.

Tentang cerita ini: Tahun ini menandai peringatan ke-70 hubungan antara Amerika Serikat dan Indonesia. Selama lebih dari 20 tahun, USAID telah bermitra dengan Pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk mendeteksi dan mengobati lebih dari 700.000 kasus TBC-- langkah pertama yang sangat penting dalam memberantas penyakit ini-- dan memastikan bahwa para pasien mendapat obat-obat yang mereka butuhkan (dan tetap menjalani pengobatan). Dengan dukungan USAID, Indonesia sekarang sudah selangkah lebih dekat menuju visi bersama kami untuk Indonesia bebas TBC pada tahun 2030 dan masa depan yang sehat dan sejahtera untuk generasi Amerika dan Indonesia yang akan datang.

Untuk informasi terkini lainnya, gabung dengan @USAIDIndonesia di FacebookExposureTwitter dan Flickr.

Cerita oleh Jennifer Jackson dan Samantha Martin. Terjemahan oleh Herlina dan Colton Getter. 

 

Last updated: May 31, 2019

Share This Page