Menyediakan Obat yang Aman untuk Pasien yang Membutuhkan

Senin, Maret 4, 2019
Suswandi dan keluarganya berdiskusi tentang pengobatan HIV dan TBC dengan staf Puskesmas Kramat Jati.
Indah Mutia untuk USAID

Diagnostik mutakhir, prosedur yang seksama dan kader masyarakat yang tulus saling mendukung untuk memerangi TBC di Indonesia.

“Saya memastikan bahwa saya minum obat saya setiap hari, untuk menjaga kesehatan saya dan anak-anak saya,” ujar Suswandi sambil memeluk putra sulungnya yang berusia 7 tahun yang sedang duduk di pangkuannya.

Suswandi didiagnosis terkena tuberculosis (TBC) dan HIV pada tahun yang sama. Ia memakai masker wajah setiap saat, hal yang aneh menurut anak-anaknya pada awalnya. “Saya sudah datang ke Puskesmas Kramat Jati (yang memberikan layanan pengobatan TBC dan HIV) selama tiga bulan. Saya pergi ke sana setiap hari dan minum obat TBC untuk memastikan bahwa saya bisa lebih sehat.”

Menyadari bahwa banyak aspek dari sistem kesehatan yang harus saling mendukung untuk memastikan bahwa pasien seperti Suswandi menerima layanan TBC dan HIV yang aman dan efektif, USAID bermitra dengan Pemerintah Indonesia untuk membangun dan memperkuat jejaring antara farmasi, laboratorium, rumah sakit dan puskesmas yang bekerja bersama untuk menyediakan layanan perawatan TBC dan HIV yang lengkap.

Suswandi mendengar tentang Puskesmas Kramat Jati melalui kelompok yang didukung oleh USAID. Kader kesehatan yang terkait dengan fasilitas kesehatan melakukan penjangkauan di masyarakat dan mengadakan pertemuan mingguan untuk membahas mengapa pasien yang seringkali terisolasi dan hal yang membingungkan seperti: salah persepsi tentang HIV dan TBC, bagaimana memanfaatkan tunjangan kesehatan yang diberikan pemerintah dan tantangan minum pil berdosis besar yang diperlukan untuk mengatasi penyakit.

Suswandi bergabung dengan kelompok ini setelah tetangganya menghubungkannya dengan salah satu kader kesehatan. Kemudian, kelompok pendukung ini menghubungkan Suswandi dengan sistem kesehatan resmi di mana USAID membantu pemerintah Indonesia meningkatkan keamanan obat dan pengirimannya.

Sebelumnya, pengobatan untuk pasien seperti Suswandi mungkin ditunda sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan; mungkin tes TBC sudah dilakukan di suatu klinik tetapi mungkin belum akan diketahui statusnya selama satu atau dua minggu setelahnya.

Karena Puskesmas yang dikunjungi Suswandi menggunakan mesin untuk diagnosis cepat yang disebut GeneXpert, ia bisa mengetahui status TBC dalam waktu beberapa jam. GeneXpert memperpendek waktu tes dan hasil diagnosis hingga kurang dari dua jam dan dapat dilakukan langsung di klinik. USAID telah mendukung GeneXpert sejak 2011. Pada akhir 2017, Pemerintah Indonesia, dengan dukungan dari Global Fund dan USAID, menambah jumlah mesin GeneXpert di berbagai tempat di Indonesia sehingga jumlahnya menjadi 533. Peningkatan jumlah ini bisa diartikan sebagai peningkatan 43 persen jumlah kasus TBC yang bisa dideteksi secara nasional selama enam tahun.

Hasil diagnosis GeneXpert Suswandi menunjukkan bahwa ia terkena BC yang resisten terhadap obat, atau DR-TB. DR-TB membutuhkan serangkaian tes yang lebih kompleks untuk memastikan bahwa pasien diobati dengan tepat, dan ini hanya bisa dilakukan di laboratorium tertentu yang memenuhi syarat. Untungnya, Indonesia sekarang punya jaringan 13 laboratorium yang terjamin kualitasnya untuk tes DR-TB yang dibentuk dengan dukungan dari USAID dan diakreditasi secara internasional, seperti Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) di Surabaya, Indonesia. Laboratorium BBLK tidak hanya melakukan tes DR-TB, tapi juga memberikan pelatihan kepada laboratorium regional lain tentang praktik diagnostik mutakhir.

Hasil tes Suswandi digunakan untuk memastikan bahwa ia mendapat pengobatan campuran yang paling efektif. Dokter dan kelompok pendukung masyarakat mempersiapkannya komunitas untuk mendapatkan obat harian yang lebih kuat dengan jangka waktu yang lebih panjang. Kualitas obat ini harus sangat baik untuk menyembuhkannya dari penyakit ini. Suswandi terus minum obat hariannya dan diharapkan akan selesai menjalani pengobatan pada bulan Agustus 2019.

Ketika obat-obatan diproduksi dengan bahan berkualitas rendah tanpa menerapkan praktik manufaktur yang baik atau disimpan dalam kondisi yang panas atau lembab, obat menjadi tidak efektif. Pasien yang minum obat-obat berkualitas rendah sering menderita efek samping yang parah dan penyakitnya akan resisten terhadap obat atau bahkan mengakibatkan bisa meninggal.

Menyadari pentingnya kesehatan masyarakat, USAID bermitra dengan otoritas pengawas obat nasional di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Kesehatan dan produsen obat TBC lokal untuk melatih mereka dalam inovasi dan standar pemeriksaan, tes dan jaminan kualitas yang dapat memastikan bahwa kualitas obat TBC yang disediakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan umum bisa setinggi mungkin. Pasien seperti Suswandi bisa yakin bahwa sistem kesehatan menyediakan perawatan yang efektif dan dapat dipercaya untuk mengobati penyakit mereka.

USAID bekerja sama dengan Indonesia untuk membantu memastikan bahwa semua pasien TBC dan HIV, seperti Suswandi, menerima diagnostik yang berkualitas dan perawatan serta layanan pengobatan yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan mereka dan keluarganya.

*Nama belakang Suswandi tidak dicantumkan untuk melindunginya dari stigma karena TBC dan HIV.

 

Untuk informasi terkini lainnya, gabung dengan @USAIDIndonesia di FacebookExposureTwitter dan Flickr.

Cerita oleh Trenton White. Terjemahan oleh Herlina dan Colton Getter. 

Last updated: May 31, 2019

Share This Page