Memperkuat Toleransi dan Pluralisme pada Generasi Muda

Speeches Shim

Intoleransi dan ekstremisme dapat mengancam demokrasi dan menghambat pembangunan. Generasi muda, yang mewakili seperempat dari 270 juta penduduk Indonesia,sangat rentan terhadap ujaran kebencian dan pesan radikal.Terkait hal ini, Amerika Serikat bermitra dengan masyarakat sipil mempromosikan toleransi dan pluralisme, terutama di kalangan generasi muda.

Kedamaian demokrasi Indonesia saat ini terancam oleh meningkatnya intoleransi, termasuk peningkatan angka eksklusivisme agama dan ketimpangan pada kelompok minoritas, terutama dalam sistem pendidikan. Contohnya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hampir setengah dari semua siswa sekolah menengah dan  universitas enggan bersosialisasi dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda.

USAID Creative Youth for Tolerance (CREATE)

USAID CREATE menyediakan sarana positif untuk generasi muda agar dapat mengekspresikan diri,serta mempromosikan pemahaman antar agama dan etnis kepada para siswa/i, guru, orang tua, dan pemangku kepentingan. Melalui seni dan budaya, program ini juga mempromosikan toleransi dan pluralisme di kalangan siswa/i, meningkatkan kemampuan dan kemauan generasi muda Indonesia untuk secara konstruktif menangani perbedaan dan melawan pesan-pesan intoleran. 

Di masa formatif-nya, generasi muda melakukan navigasi, mengkaji, dan menginternalisasi informasi tentang nilai-nilai, moral, dan etika. Proses ini menjadi dasar pembentukan identitas saat dewasa. Di antara berbagai pesan yang diterima oleh generasi muda, khususnya di media sosial dan digital saat ini berbentuk pesan-pesan yang mempromosikan kebencian dan intoleransi.

Dilaksanakan oleh Stichting Hivos dan bermitra dengan organisasi lokal, USAID CREATE melakukan kegiatan di 24 sekolah menengah di provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Hasil penelitian mengidentifikasi tingginya tingkat pelanggaran terhadap kebebasan beragama (termasuk peraturan yang diskriminatif terhadap kelompok minoritas) di wilayah tersebut. Program ini memperkuat kemampuan seniman untuk mengembangkan model kolaboratif interaktif yang melibatkan siswa/i dalam ekspresi kreatif; meningkatkan pemahaman siswa/i tentang demokrasi dan hak asasi manusia; meningkatkan kemampuan guru untuk mengintegrasi nilai-nilai toleransi dan pluralisme di kelas; dan melibatkan orang tua, guru,serta kepala sekolah untuk mempromosikan kebijakan sekolah tentang toleransi dan pluralisme.

HASIL

Hingga saat ini, 21 sekolah telah berkomitmen untuk bergabung dengan USAID CREATE, dan program ini telah melatih 35 fasilitator seni ditambah 300 guru dan orang tua untuk mempromosikan toleransi di sekolah. Hampir 350 siswa/i SMA mendapatkan pelatihan dan pendampingan sebelum mengikuti kompetisi seni dan pameran virtual yang memamerkan karya seni mereka (podcast, lukisan, video, dan lainnya) seputar tema toleransi dan keberagaman kepada teman sebaya dan guru.

Pada tahun 2023, USAID CREATE diharapkan dapat membina kader-kader lulusan yang akan menjadi contoh toleransi bagi teman sebaya dan masyarakat; jaringan guru dan orang tua yang diberdayakan untuk memantau dan menangani kejadian intoleransi; dan pendekatan yang terbukti efektif mempromosikan pluralisme untuk dapat diintegrasikan dan direplikasi ke dalam inisiatif pemerintah.

NARAHUBUNG

Yahya Luping, USAID di yluping@usaid.gov
Mohamad Miqdad, Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial, Stichting Hivos (HIVOS) di mmiqdad@hivos.org

Last updated: August 25, 2021

Share This Page